Selasa, 11 Mei 2010

ARTIKEL Dampak Krisis Pada Industri Dana Pensiun

Nama : Indah kiki lestari
Npm : 20207557/ 3 EB 13

ARTIKEL
Dampak Krisis Pada Industri Dana Pensiun

Krisis ekomomi global yang sedang dialami oleh semua negara didunia berdampak pada seluruh instrumen investasi sehingga banyak perusahaan-perusahaan investasi yang bangkrut. Berikut dampak yang ditimbulkan dari krisis global terhadap beberapa instrumen investasi Dana Pensiun.

Deposito
Ketika awal terjadinya krisis keuangan global dimana aliran likuiditas banyak lari keluar negeri sehingga bank-bank didalam negeri mengalami kesulitan sehingga bank-bank didalam negeri berlomba-lomba memberikan tingkat suku bunga deposito yang cukup besar hingga mencapai 14%-15% p.a untuk peningkatan likuiditas bank, akibat dari suku bunga deposito yang sudah sedemikian tinggi memicu kenaikan suku bunga kredit yang mengakibatkan banyak perusahaan yang gulur tikar (bangkrut) karena tidak sanggup lagi menanggung biaya operasional yang meningkat namun tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan. Bank indonesia mengambil tindakan untuk meredam kondisi tersebut dengan menurunkan BI rate, penurunan BI rate memaksa bank-bank untuk menurunkan tingkat suku bunga (walaupun tidak dengan serta merta bank-bank menurunkan suku bunga depositonya) dengan tujuan agar dapat meningkatkan penyaluran kredit yang sempat berhenti karena kondisi pasar yang belum stabil.

Saham
Akibat krisis yang terjadi dinegeri paman sam (amerika serikat) ternyata berdampak langsung bagi negara-negara berkembang seperti indonesia dimana IHSG terjun bebas dari level 2800 di awal tahun 2008 (bulan januari) menjadi ke level 1100 pada akhir tahun 2008 (bulan oktober). Penurunan IHSG yang sangat signifikan secara otomatis mengakibatkan banyak dana pensiun dan asuransi yang tertahan portofolionya khususnya yang berbasis saham. SPI (selisih penilaian investasi atau selisih antara harga perolehan dengan harga pasar) untuk instrumen saham mengalami minus yang cukup besar.

Obligasi dan SUN(surat utang negara)
Badai krisis keuangan global tidak hanya menghantar sektor saham semata tapi sektor pasar modal juga mendapat imbas yang cukup besar, hal tersebut terjadi karena banyak investor asing yang memindahkan dananya dari indonesia ke negara asalnya sehingga menekan harga obligasi dan SUN di secondari market. Merosotnya harga obligasi dan SUN mengakibatkan investasi dana pensiun di instrumen obligasi dan SUN mengalami stagnasi atau tidak berkembang. Jika dilihat dari sisi harga pada saat krisis adalah merupakan saat yang paling tepat untuk membeli SUN karena harganya yang sangat murah, hal tersebut terjadi karena investor asing banyak melepas SUN yang dimiliki karena memerlukan likuiditas di negara asalnya namun dana pensiun dan asuransi yang merupakan investor terbesar untuk pasar SUN dan obligasi tidak terlalu banyak melakukan transaksi karena mereka beranggapan imbas dari krisis finansial global masih akan berlanjut.

Reksadana
Industri reksadana ditanah air mengalami penurunan yang cukup membuat jantung para investor berdetak kencang, walaupun separah yang terjadi ketika tahun 2005 dimana industri reksadana mengalami kehancuran, banyak investor yang kehilangan dananya dan ada beberapa manager investasi yang dipaksa oleh pihak berwajib terkait hilangnya dana nasabah. Besarnya dampak krisis keuangan global pada instrumen reksadana tergantung dari jenis reksadana itu sendiri apakah reksadana itu berbasis saham, pasar uang, pendapatan tetap atau campuran. Reksadana yang berbasis sahamlah yang mengalami penurunan NAB (nilai aktiva bersih) yang paling besar dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya karena reksadana saham sangat dipengaruhi oleh kondisi bursa atau tingkat fluktuatifnya sangat tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar